Nicolai Hulot, nama ini masih lekat dalam ingatan Pak Konik, salah
seorang petugas jaga di Pos Paltuding. Pos ini merupakan base pendakian
ke Kawah Ijen. Nicolai Hulot adalah warga Negara Perancis yang
mempopulerkan pesona Kawah Ijen melalui acara “Ushuwaia Adventure” di
televisi Perancis. Jadi tidak mengherankan jika mayoritas pengunjung
Kawah Ijen merupakan turis warga Negara Perancis.
Kembali ke Pak
konik, beliau adalah generasi kedua yang mengabdikan diri sebagai
penjaga Pos Paltuding, anaknya yang sulung juga bekerja di Paltuding.
Saya sengaja mengangkat nama ini karena dari awal kedatangan kami di Pos
Paltuding, beliau sangat membantu rombongan kami. Memasuki Petang hari,
beliau mengajak kami mengumpulkan kayu di sekitaran base paltuding, dan
kami diberitahu bahwa listrik di Paltuding hanya tersedia mulai pukul
18.00 wib – 21.00 wib.
Setelah terkumpul kayu bakar, Pak konik
memberitahu saya mengenai tempat penimbangan belerang yang berada tidak
jauh dari lahan parkir Pos Paltuding. Keramahan para penambang menyambut
kami, dan mereka mengajak kami berbaur di dekat api ungggun yang sudah
mereka buat dari bekas-bekas keranjang bambu tempat menampung belerang
yang sudah rusak berat.
Suasana bertambah hangat ketika rombongan
kami membagikan rokok kretek kepada mereka (note; bawalah persediaan
rokok kretek, karena mereka sangat menghargai ini dibanding dengan
pemberian uang). Mereka bercerita mengenai kehidupan para penambang dan
tantangan yang dihadapinya
Kebanyakan para penambang berasal dari
Banyuwangi, terutama daerah Licin. Dari Licin ke Paltuding ada 2 kali
shuttle truck belerang pagi jam 09.00wib dan siang hari pukul 14.00 wib.
Jangan anggap remah dan rendah para penambang ini, meski mereka
bergelut dengan asap belerang, medan yang curam, namun anak-anak mereka
sudah banyak yang melanjutkan studi ke universitas-universitas terbaik
negeri ini dari hasil penambangan belerang.
Ketika jam
menunjukkan pukul 18.00wib, kami kembali ke Base Paltuding dan
sebelumnya kami mengambil foto bersama. Pada jam tersebut juga, pak
Koning menyalakan Diesel Generator. Malam itu kami habiskan di warung
yang berada di ujung lahan parkir paltuding yang dekat dengan jalur
pendakian. Waktu 3 jam aliran listrik ini sangat berharga untuk
memastikan battery perlengkapan elektronik, seperti HP, Camera Digital,
dsb, diisi penuh.
Diesel generator dimatikan tepat pukul 21.00,
kayu-kayu yang kita kumpulkan petang tadi mulai dibakar, dan beberapa
penambang ikut bergabung bersama kami, mayoritas penambang disini
merupakan suku Osing, dialeknya juga khas dan agak berbeda dengan bahasa
Jawa.
Kawasan Ijen dikelilingin oleh Hutan dan perkebunan
kopi, menurut penuturan mereka, masih terdapat Harimau di kawasan ini.
Dan ada bebarapa kepercayaan masyarakat sekitar kawasan ini yang kuat
mengenai keberadaan Harimau ini, antara lain kayu bakar bonggolan
(balokan ukuran besar) yang sedang dibakar sangat dilarang untuk di
duduki. Karena hal tersebut merupakan sinyal penanda untuk memanggil
harimau.
Thermometer di Pos jaga menunjukkan temperature 7oC
ketika masuk pukul 00.00wib, dimana kami harus mempersiapkan diri dengan
perlangkapan dan juga perbekalan untuk tracking ke puncak. Bagi yang
pertama kali datang ke Ijen, sangat disarankan untuk membawa pemandu
(sebaiknya juga dari penambang, yang memang sudah hafal jalurnya).
Karena beberapa anggota rombongan kami ada yang sudah berkali-kali ke
Ijen maka setelah berdoa bersama, kami langsung menyusuri jalur
pendakian. Tujuan kami memulai tracking pada pukul 00.00wib adalah agar
tidak melewatkan kesempatan melihat Api Biru yang hanya ada di Kawah
Ijen.
Mulailah kami tracking, memasuki Km 1, ada 2 orang teman
kami yang mulai kelelahan dan salah satunya sudah mual dan muntah,
akhirnya kami beristirahat sejenak tiap 100m, meskipun hanya berjarak 3
km, namun jalurnya terus menanjak. Dan tiap berapa ratus meter ada
shelter tempat untuk beristirahat. Pada kesempatan ini kami melihat
sendiri bagaimana para penambang melaju dengan ringannya menuju ke
Kawah.
Komunikasi dengan rekan dalam rombongan sangat diperlukan,
karena ketika capek lelah, letih dan konsentrasi menurun maka kadang
mudah untuk disorientasi dalam hal apapun, dan itu terjadi dengan rekan
kami dari Banyuwangi yang beru pertama kali ke Ijen. Tracking Malam hari
sangat berbeda jauh dengan siang hari;, karena pada malam hari selain
track yang menanjak, suhu dingin yang menusuk juga menjadi tantangan
lainnya.
Tepat Pukul 03.30wib, kami tiba di Puncak kawah,
Temperatur Udara dari thermometer menunjukkan 2oC,, 4 orang dari
rombongan kami mengalami kelelahan berat, akhirnya di suatu celah tebing
kawah, mereka beristirahat. Kami bertiga akhirnya memutuskan untuk
melanjutan perjalanan tracking down ke Bibir Kawah. Subhanallah, kami
betiga takjub melihat sekilas api biru yang disapu asap belerang dari
ketinggian puncak kawah, membuat semangat kami mendekati bibir kawah
semakin tinggi.
Rute yang curam dan terjal, ditambah jurang yang
menganga di sebelah kami, membutuhkan konsentrasi penuh dari kami
bertiga. Kami menyingkir sebentar ketika berpapasan dengan penambang
belerang yang mengangkut belerang dari bawah .
Setelah mencapai
bibir kawah, tak terasa air mata ini mengalir melihat perjuangan para
penambang melawan asap belerang yang beberapa diantaranya tanpa masker
bahkan sambil merokok !!! ,,, mereka tanpa kenal lelah melepas bongkahan
belerang menggunakan peralatan sederhana sepeti linggis, cangkul, dsb.
Belerang tsb dimasukkan dalam keranjang bambu untuk diangkut ke atas
kawah, dan kemudian dibawa turun ke tempat penimbangan belerang.
Berat
beban belerang di keranjang bambu ini antara 70-100 Kg. Dan tiap Kg
hanya dihargai Rp. 650,- !!!. Di bibir kawah ini kami harus beberapa
kali membasahi handuk tebal kami dengan air, handuk inilah yang kami
jadkan masker,.. setelah mengabadikan momen Api Biru di Bibir Kawah,
maka kami harus segera naik kembali ke Puncak kawah agar bisa mendapat
sunrise. Kami merasakan bagaimana rute menanjak yang curam dari bibir
kawah ke Puncak, berkali-kali kami bertiga harus rehat sejenak untuk
mengumpulkan tenaga. Dengan hanya membawa tas kamera yang bebannya tidak
sebanding dengan berat keranjang belerang, namun para penambang ini
tanpa lelah terus menanjak. Luar Biasa !!!,, seperti kata Pak Tanzil
–pimpinan ekspedisi “Ring Of Fire” di Metro tv--,, “In the deep of
sadness, there is happiness”.
Mendekati pukul 05.00wib kami
mencapai puncak kawah, rekan-rekan kami terlelap dengan nikmatnya ketika
kami menghampiri mereka di salah satu celah tebing tempat mereka
beristirahat. Perjalanan kami lanjutkan menuju bengunan bekas
peninggalan Belanda yang berada di punack kawah sebelah utara,, Disini
kami mendapatkan momen sunrise yang cerah, kami menghabiskan waktu yang
cukup lama di tempat ini, memandangi Lukisan sang Pencipta yang luar
biasa ini.
Setelah mengabadikan momen di puncak kawah, kami
tracking down ketika waktu menunjukkan pukul 08.30wib. Mulai berdatangan
turis mancanegara ke puncak kawah, beberapa dari mereka menanyakan api
biru, dimana setelah matahari terbit memang sudah tidak terlihat.
Beberapa dari mereka hanya menyaksikan dari puncak kawah setelah melihat
rute curam dan terjal untuk track down ke bibir kawah.
Kami tiba
di Paltuding pukul 10.45wib, setelah bersih-bersih, sarapan, kami
melanjutkan perjalanan ke Bondowoso, Situbondo, dan berakhir di Cemoro
Lawang.
Teradapat 2 rute untuk mencapai Kawah Ijen;
1.
Jika anda Backpacker, sebaiknya anda melalui jalur
Banyuwangi-Licin-paltuding; meski jalurnya terjal, namun akses
transportasinya lebih mudah, dari Stasiun Kereta Api Banyuwangi atau
Terminal Bis, anda bisa melanjutak perjalanan ke Licin, dan ada shuttle
truk belerang dari Licin ke Paltuding 2 kali sehari. Usahakan sebelum
jam 13.00wib anda mencapai Licin karena Shuttle terakhir jam 14.00wib
2.
Jika menggunakan mobil pribadi lebih baik dari Bondowoso-gardu
atak-Sempol-Paltuding; meski ada beberapa bagian jalanan yang sudah
jelek, namun rute ini lebih mulus dibandingkan dari banyuwangi.
No comments:
Post a Comment